RANAH MINANG
PROFIL & LATAR BELAKANG PROVINSI SUMATERA BARAT !Provinsi Sumatera Barat atau yang dikenal dengan ‘Ranah Minang’ memiliki potensi alam yang ramah, nyaman dan indah, yang senantiasa dikunjungi oleh para wisatawan, baik dari daerah sendiri, perantau diluar Sumbar maupun wisatawan mancanegara.Wilayah Sumbar yang berada di bagian barat tengah pulau Sumatera mempunyai luas sekitar 42.297,30 km². Provinsi ini memiliki dataran rendah di bagian pantai barat serta dataran tinggi vulkanik (pegunungan) yang dibentuk Bukit Barisan dan membentang dari barat laut sampai ke tenggara. Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia termasuk dalam provinsi ini. Garis pantai Sumatera Barat seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia sepanjang lebih kurang 375 km.Begitu juga dengan danau-danau terkenal yang ada di Sumatera Barat, seperti Danau Maninjau mempunyai luas 99,5 km2, Singkarak 130,1 km2, Danau Diatas dengan luas 31,5 km2, Danau Dibawah (Dibaruh) sekitar 14,0 km2 dan Danau Talang yang luasnya lebih kurang 5 km2. Danau-danau tersebut acap kali didatangi para wisatawan domestik maupun luar. Alamnya yang sejuk dan dingin serta lingkungan yang sangat ramah membuat para wisatawan tergiur untuk mengunjunginya kembali. Beberapa sungai besar di pulau Sumatera berhulu di provinsi ini, yakni Sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Indragiri (disebut sebagai Batang Kuantan di bagian hulunya), Sungai Kampar dan Batang Hari. Kesemuanya bermuara di pantai timur Sumatera, yakni provinsi Riau dan Jambi. Sungai-sungai yang bermuara di pantai barat umumnya pendek-pendek, beberapa diantaranya adalah Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan.Alam Sumatera Barat memiliki tanah yang subur, sangat berpotensi bagi lahan pertanian karena didaerah tersebut berjejer beberapa gunung yang terhampar dari utara sampai selatan, yaitu Gunung Merapi dengan ketinggian 2.891 m, Gunung Sago 2.271 m, Gunung Singgalang mempunyai tinggi 2.877 m, Gunung Tandikat berketinggian 2.438 m, Gunung Talakmau setinggi 2.912 m dan Gunung Talang 2.572 m.Sumatera Barat juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber alam serta keanekaragaman hayati. Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan alami yang selalu dilindungi. Dalam hutan tropis Sumatera Barat dapat dijumpai berbagai spesies langka, misalnya : ‘Rafflesia Arnoldii’ (bunga terbesar di dunia), Harimau Sumatera, Siamang, Tapir, Rusa, Beruang dan berbagai jenis burung. Provinsi ini juga kaya dengan Sumber Daya Alamnya, seperti, batu bara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, manganase, emas, batu kapur (semen), kelapa sawit, perikanan dan kakao (coklat). Di provinsi ini terdapat pula dua Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Siberut di Pulau Siberut (Kabupaten Mentawai) dan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.Selain kedua Taman Nasional tersebut masih ada beberapa cagar alam yang membuat para wisatawan tertegun menyaksikannya sehingga di suatu saat akan timbul kembali keinginan untuk mengunjungi bumi ’ranah minang’ nan elok dan indah. Cagar Alam itu adalah Cagar Alam Rimbo Panti, Cagar Alam Lembah Anai, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Lembah Harau, Taman Raya Bung Hatta, dan Cagar Alam Beringin Sakti.Penduduk Sumatera Barat mayoritas adalah suku Minangkabau, yang awalnya berasal dari ’dua suku’ (klan) utama : Koto Piliang yang didirikan Datuak Ketumanggungan dan Bodi Chaniago didirikan oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang. Suku Koto Piliang memakai sistem aristokrasi yang dikenal dengan istilah ’Titiak Dari Ateh’ (titik dari atas) ala istana Pagaruyung sedangkan Bodi Chaniago lebih bersifat demokrasi yang dikenal dengan istilah ’Mambasuik Dari Bumi’ (muncul dari dalam bumi). Seiring dengan perkembangan zaman, suku-suku tersebut berkembang menjadi banyak, diantaranya Tanjuang, Chaniago, Koto, Piliang, Guci, Simabur, Sikumbang, Jambak dan Melayu. Di daerah Pasaman selain suku Minang berdiam pula suku Batak Mandailing, seperti Lubis, Nasution dan Suku Mentawai terdapat di Kepulauan Mentawai.Bahasa yang digunakan dalam keseharian ialah bahasa daerah yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pesisir Selatan dan dialek Payakumbuh. Di daerah Pasaman dituturkan juga Bahasa Batak dialek Mandailing yang biasanya digunakan suku Batak Mandailing. Sementara itu di Mentawai yang merupakan kepulauan dan terletak beberapa puluh kilometer di lepas pantai Sumatra Barat, bahasa yang digunakannya adalah Bahasa Mentawai.Provinsi Sumatera Barat atau ’ranah minang’ ini sangat kental dengan etika, sopan santun maupun adat istiadatnya. Rakyatnya menganut paham ’Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah’, yang artinya adalah adat istiadat yang digunakan bersendikan kepada hukum ataupun norma-norma yang berlaku dan hukum yang dijalankan harus pula bersendikan kepada ajaran agama islam.Dalam sebuah Nagari dibentuk Kerapatan Adat Nagari, yakni lembaga yang beranggotakan ’Tungku Tigo Sajarangan’ yang merupakan perwakilan anak nagari dan terdiri dari Alim Ulama, Cadiak Pandai (kaum intelektual) serta Niniak Mamak para pemimpin suku dalam suatu Nagari. Keputusan keputusan penting yang akan diambil harus selalu dimusyawarahkan antara Wali Nagari dan Tungku Tigo Sajarangan di Balai Adat atau Balairung Sari Nagari.Demikian sekelumit profil dan latar belakang Provinsi Sumatera Barat. Sebagaimana bak kata pepatah mengatakan, ”Kalau di rantang-rantang pasti nyo panjang, kalau diguluang tantu nyo singkek” (artinya, cerita tentang Sumatera Barat kami sampaikan disini dulu dan belum berakhir, di suatu saat akan disambung lagi.
1 komentar:
ADO yang bagus pak Salmi
Posting Komentar